Kamis, 16 April 2026

Keren!!Suka raja penukal juara ditingkat kecamatan

 

Desa Sukaraja Penukal kembali mencatatkan capaian positif dengan meraih juara pertama dalam lomba Gemar Makan Ikan tingkat kecamatan. Prestasi ini hadir bukan sekadar sebagai kemenangan, melainkan sebagai cerminan dari kebersamaan dan kesadaran masyarakat dalam membangun pola hidup sehat secara perlahan namun konsisten.

Di balik capaian tersebut, terlihat peran aktif berbagai unsur di desa—mulai dari pemerintah desa, kader PKK, hingga warga yang turut ambil bagian dalam menghidupkan gerakan gemar makan ikan. Beragam olahan ikan yang ditampilkan tidak hanya menarik, tetapi juga sederhana dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga manfaatnya benar-benar bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pendekatan yang dilakukan pun terbilang sederhana namun berdampak. Edukasi dilakukan secara bertahap, menyentuh keluarga-keluarga di desa, serta mengajak anak-anak untuk terbiasa mengonsumsi ikan sejak dini. Dari langkah-langkah kecil inilah, budaya hidup sehat mulai tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat.

Kepala Desa Sukaraja Penukal, Ali Padilah, menyampaikan bahwa capaian ini menjadi penyemangat bagi desa untuk terus melangkah ke arah yang lebih baik.

“Alhamdulillah, ini adalah hasil dari kebersamaan masyarakat. Kami hanya berusaha menjalankan apa yang bisa kami lakukan dengan sederhana. Semoga ke depan, kebiasaan baik seperti gemar makan ikan ini bisa terus terjaga dan membawa manfaat bagi kesehatan warga,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan ini bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk terus menjaga konsistensi dan memperkuat kebiasaan positif di tengah masyarakat.


Dengan raihan ini, Desa Sukaraja Penukal di Kecamatan Penukal menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. Sebuah capaian yang sederhana, namun sarat makna dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk terus bergerak maju dengan cara yang membumi.

“Hebat! Suka raja Penukal Terdepan Lewat Gemar Ikan”

 


Desa Suka raja , yang berada di wilayah Kecamatan Penukal, kembali mengukir prestasi membanggakan dengan meraih juara satu dalam lomba Gemar Makan Ikan tingkat kecamatan. Capaian ini bukan sekadar kemenangan seremonial, melainkan menjadi simbol keberhasilan kolektif masyarakat dalam membangun kesadaran akan pentingnya konsumsi ikan sebagai sumber gizi utama bagi keluarga.

Keberhasilan tersebut lahir dari sinergi kuat antara pemerintah desa, kader PKK, serta partisipasi aktif masyarakat yang secara konsisten menggaungkan pola hidup sehat melalui konsumsi ikan. Berbagai inovasi ditampilkan dalam lomba tersebut, mulai dari kreasi olahan ikan yang menarik dan bernilai gizi tinggi, hingga metode edukasi yang kreatif dalam mengajak anak-anak dan ibu rumah tangga untuk gemar mengonsumsi ikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya menonjol dari sisi kreativitas, Desa Sukaraja juga dinilai unggul dalam hal keberlanjutan program. Gerakan gemar makan ikan di desa ini telah menjadi budaya yang terus dijaga, bukan sekadar kegiatan sesaat untuk kepentingan lomba. Hal ini terlihat dari konsistensi kegiatan sosialisasi, pelatihan pengolahan ikan, hingga pemanfaatan potensi lokal yang mendukung ketersediaan ikan bagi masyarakat.

Kepala Desa Sukaraja Ali padhila dalam keterangannya menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras seluruh masyarakat.

“Kami sangat bersyukur dan bangga atas prestasi ini. Ini bukan hanya kemenangan bagi pemerintah desa, tetapi kemenangan seluruh masyarakat Desa Sukaraja. Gerakan gemar makan ikan ini akan terus kami dorong sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan dan kualitas generasi ke depan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa ke depan, Desa Sukaraja akan terus berinovasi dan memperkuat program-program berbasis kesehatan masyarakat, sehingga prestasi yang diraih tidak berhenti di tingkat kecamatan saja, tetapi mampu bersaing hingga ke tingkat yang lebih tinggi.

Dengan keberhasilan ini, Desa Sukaraja semakin menegaskan posisinya sebagai desa yang progresif dan peduli terhadap kesehatan masyarakat. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kecamatan Penukal untuk turut menggalakkan gerakan gemar makan ikan sebagai langkah nyata dalam menciptakan masyarakat yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Arga,anak rantau yg kehabisan gas Elpiji


 Arga duduk terdiam di dapur kecilnya, menatap kompor yang tak lagi menyala. Tabung gasnya kosong sejak tadi pagi. Ia sudah mencoba memasak sisa bahan yang ada, tapi semuanya sia-sia tanpa api. Perutnya mulai terasa perih, sementara dompetnya bahkan lebih menyedihkan—kosong tanpa sisa.

Ia menghela napas panjang, mencoba berpikir. Tak banyak pilihan. Dengan sedikit rasa ragu, Arga akhirnya mengambil ponselnya. Nama kakaknya, Andri, muncul di layar. Jari-jarinya sempat berhenti sejenak, seolah masih mempertimbangkan harga diri yang tertinggal. Namun keadaan memaksanya untuk menekan tombol panggil.

“Bang…” suara Arga terdengar pelan saat telepon tersambung.

“Iya, Ga, kenapa?” jawab Andri dari seberang, terdengar santai.

Arga menelan ludah, mencoba menyusun kata-kata.

“Gas di rumah habis… uang juga lagi nggak ada. Bisa pinjam dulu, Bang? Buat beli gas sama makan.”

Hening sejenak. Arga menunduk, menunggu jawaban dengan perasaan campur aduk antara malu dan harap.

Tak lama, suara Andri kembali terdengar, kali ini lebih lembut.

“Ya sudah, kirim nomor rekening kamu. Nanti Abang transfer. Lain kali bilang dari awal kalau lagi butuh, jangan dipendam sendiri.”

Arga tersenyum tipis, rasa lega perlahan mengisi dadanya.

“Iya, Bang… makasih banyak.”

Telepon ditutup. Di dapur yang tadi terasa dingin dan sepi, kini muncul sedikit kehangatan—bukan dari api kompor, tapi dari perhatian seorang kakak yang selalu ada saat dibutuhkan.

Jumat, 02 Januari 2026

Awal tahun, bupati pali Lantik 32 pejabat

 

Bupati PALI Lantik 32 Pejabat di Awal Tahun 2026, Tekankan Kinerja dan Pelayanan Publik

PALI,_Mengawali tahun 2026, Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) melantik sebanyak 32 pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten PALI. Pelantikan tersebut berlangsung khidmat dan menjadi bagian dari upaya penyegaran birokrasi guna meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

Prosesi pelantikan digelar di lingkungan Pemkab PALI dan dihadiri oleh unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, para kepala OPD, serta tamu undangan lainnya. Pejabat yang dilantik terdiri dari pejabat administrator dan pengawas yang akan mengisi sejumlah jabatan strategis di berbagai organisasi perangkat daerah.

Dalam sambutannya, Bupati PALI menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan profesionalisme. Ia meminta para pejabat yang baru dilantik untuk segera menyesuaikan diri dan bekerja maksimal sesuai tugas dan fungsi masing-masing.


“Awal tahun 2026 ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan kinerja, memperkuat sinergi, serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat PALI,” tegas Bupati.

Bupati juga mengingatkan pentingnya loyalitas terhadap aturan, komitmen terhadap reformasi birokrasi, serta kemampuan berinovasi dalam menjawab tantangan pembangunan daerah.

Dengan dilantiknya 32 pejabat tersebut, Pemerintah Kabupaten PALI optimistis roda pemerintahan akan berjalan lebih efektif, transparan, dan akuntabel demi mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan sepanjang tahun 2026.

Kamis, 01 Januari 2026

Hujan hampir tiap hari,petani menjerit

 




Hujan Tak Kunjung Reda, Petani Karet Menjerit Tak Bisa Menyadap

PALI_

Hujan yang terus mengguyur hampir setiap hari membuat petani karet di sejumlah wilayah kian terhimpit. Curah hujan yang tinggi menyebabkan batang karet selalu basah, sehingga para petani terpaksa menghentikan aktivitas penyadapan karena getah tidak dapat mengalir secara maksimal.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh petani karet yang menggantungkan hidupnya dari hasil sadap harian. Sudah beberapa pekan terakhir, mereka hanya bisa pasrah melihat kebun karet tanpa menghasilkan apa-apa. Jika hujan turun sejak malam hingga pagi, maka penyadapan sama sekali tidak bisa dilakukan.

“Kalau hujan terus seperti ini, kami tidak bisa menyadap. Getah tidak keluar, kalau dipaksakan malah merusak kulit pohon,” ujar salah seorang petani dengan nada keluh kesah.

Tak hanya kehilangan penghasilan harian, petani juga tetap harus menanggung kebutuhan rumah tangga yang kian mendesak. Sementara itu, harga karet yang belum stabil semakin memperparah kondisi ekonomi mereka.

Para petani berharap cuaca segera membaik agar aktivitas penyadapan kembali normal. Mereka juga berharap adanya perhatian dan langkah konkret dari pemerintah, baik berupa bantuan sementara maupun kebijakan yang dapat meringankan beban petani di tengah cuaca ekstrem yang berkepanjangan.

Hujan yang turun hampir setiap hari ini menjadi pengingat betapa rentannya kehidupan petani karet terhadap perubahan cuaca. Tanpa cuaca yang bersahabat, penghasilan mereka seakan ikut hanyut bersama derasnya air hujan.


Wisata tersembunyi didesa Sukaraja Penukal



 Muara Puyang Semamat, Wisata Alam Tersembunyi Bernuansa Asri di Desa Sukaraja Penukal

Muara Puyang Semamat yang terletak di Desa Sukaraja, Kecamatan Penukal, menyimpan pesona wisata alam tersembunyi yang hingga kini masih terjaga keasliannya. Keindahan alam yang alami, jauh dari sentuhan pembangunan berlebihan, menjadikan lokasi ini sebagai destinasi alternatif bagi wisatawan yang mendambakan ketenangan dan suasana alam yang murni.

Kawasan Muara Poyang Semamat menyuguhkan panorama hijau pepohonan yang rimbun, aliran air yang jernih, serta udara segar khas pedesaan. Keaslian lingkungan yang masih terjaga menciptakan nuansa alami yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung, khususnya wisatawan lokal dan pencinta alam.



Meski belum dikelola secara maksimal, lokasi ini kerap dikunjungi masyarakat sekitar untuk bersantai, memancing, atau sekadar menikmati keindahan alam. Minimnya fasilitas dan promosi justru menjadi kelebihan tersendiri, karena menjaga kawasan tetap alami dan bebas dari keramaian.

Warga setempat berharap Muara Poyang Semamat dapat dikembangkan sebagai wisata alam berbasis kearifan lokal, tanpa menghilangkan nilai keasrian dan kelestarian lingkungan. Pengelolaan yang berkelanjutan diyakini mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa sekaligus menjaga ekosistem alam yang ada.

Dengan potensi alam yang masih asli dan tersembunyi, Muara Poyang Semamat dinilai layak menjadi salah satu destinasi wisata alam unggulan Desa Sukaraja Penukal, serta bukti kekayaan alam lokal yang patut dijaga dan dilestarikan.

Jumat, 26 Desember 2025

Jeritan hati seorang penjual ikan

 

Jeritan Hati Arga, Penjual Ikan di Muara Enim: Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli

Muara Enim — Di sudut pasar tradisional Muara Enim, Arga (28) duduk termenung di balik lapak ikan sederhananya. Ember-ember berisi ikan segar yang sejak pagi ditata rapi, hingga siang hari masih tampak utuh. Bukan karena kualitas ikan yang buruk, melainkan karena pembeli yang kian hari kian sepi.

Arga, penjual ikan kecil yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari hasil jual beli harian, kini hanya bisa mengelus dada. Pendapatan yang dulu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kini jauh dari kata cukup. “Kadang pulang cuma bawa uang buat beli beras saja. Itu pun kalau laku,” ucap Arga lirih, matanya menatap kosong ke arah jalan pasar.

Menurut Arga, kondisi ekonomi masyarakat yang menurun membuat daya beli ikut melemah. Harga kebutuhan pokok yang terus naik memaksa warga mengencangkan ikat pinggang. Ikan, yang dulunya jadi lauk harian, kini mulai ditinggalkan. “Orang lebih pilih beli mie instan. Ikan dibilang mahal, padahal untung kami juga tipis,” katanya.

Ironisnya, di tengah sulitnya penjualan, Arga tetap harus menanggung biaya operasional. Mulai dari modal beli ikan di subuh hari, ongkos transportasi, hingga risiko ikan tak terjual dan membusuk. Jika itu terjadi, kerugian harus ia tanggung sendiri tanpa ada penyangga.

“Kalau ikan busuk, ya dibuang. Itu berarti modal hilang. Tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya pekerjaan saya,” ujarnya dengan nada pasrah.

Jeritan hati Arga bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan potret nyata perjuangan pedagang kecil di Muara Enim. Mereka bertahan di tengah tekanan ekonomi, tanpa jaminan, tanpa bantuan yang benar-benar menyentuh. Arga berharap ada perhatian nyata dari pemerintah, baik dalam bentuk stabilisasi harga, bantuan modal, maupun program yang berpihak pada pedagang kecil.

“Kami tidak minta kaya, cuma ingin bisa makan dan menyekolahkan anak,” tutup Arga.

Kisah Arga menjadi pengingat bahwa di balik geliat pasar dan angka-angka ekonomi, ada manusia-manusia kecil yang berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup.

Keren!!Suka raja penukal juara ditingkat kecamatan

  Desa Sukaraja Penukal kembali mencatatkan capaian positif dengan meraih juara pertama dalam lomba Gemar Makan Ikan tingkat kecamatan. Pres...